REPRODUKSI
RINGKASAN BUKU
FONETIK
Penulis : Drs. Agus Budi Wahyudi, M. Hum.
Penerbit :
PBSID FKIP UMS dan bukutujju
Halaman :
100 halaman
Ukuran :14 *20,5 cm
Kategori :
Buku Non Fiksi
Terbit : 1 Januari 2013
Harga : Rp. 29.000
BAB
I
PENDAHULUAN
Linguistik
dipelajari dari segi mikrolinguistik artinya kajian itu tanpa melibatkan ilmu
lain. Fonetik sebagai cabang linguistik deskriptif. Fonetik sebagai alat bantu linguis, sebagai bekal
untuk persiapan diri menjalani profesi guru bahasa, dan merupakan ilmu yang
sangat berkembang, maka disebut sebagai fonetik interdisipliner.
Hakikat
bahasa adalah bunyi. Bunyi itu dapat diindera dengan indera pendengar.
Mahasiswa diharapkan mempersiapkan ketajaman telinga sehingga dapat memahami
materi dengan baik terutama dalam ilmu fonetik. Fonetik itu memiliki sifat
mekanisme sehingga istilah-istilah yang melekat di dalam fonetik harus dikuasai
dengan strategi yang cocok bagi setiap individu.
BAB
II
PEMBAHASAN
ILMU
BUNYI BAHASA SEBAGAI SUBKAJIAN LINGUISTIK
Perkataan
linguistik diartikan “ilmu bahasa”. Linguistik berasal dari bahasa Latin (Lingua).
Kata Padanan dalam bahasa Italia (Lingua), bahasa Spanyol (Lengua),
dan bahasa Perancis (Langue). Ahli bahasa dalam bahasa Inggris disebut linguist
dan dalam bahasa Indonesia disebut linguis. Linguistik sebagai ilmu mengkaji
seluruh komponen bahasa.
Linguistik didefinisikan sebagai
kajian bahasa secara ilmiah. Pengkajian
bahasa wajib mempersiapkan dirinya belajar memandang bahasa secara objektif.
Pandangan yang objektif yaitu memandang bahasa sebagai bahasa. Linguistik
bersifat sistematis dan objektif. Sistematis artinya beraturan, memiliki pola,
ada generalisasi yang utuh, tidak terpisah, merupakan satu kesatuan yang
bagian-bagiannya sejalan, dan semuanya mendukung suatu kesatuan. Linguistik
sebagai ilmu bahasa dibagi dalam sub atau bidang, meliputi bidang fonetik,
fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Bunyi bahasa merupakan ilmu
kajian fonetik dan fonologi.
BAB
III
FONETIK:
KAJIAN BUNYI-BUNYI BAHASA
Bahasa
terdiri atas bunyi dan susunan bunyi. Kajian tentang bunyi disebut fonologi dan
fonetik. Fonetik mengkaji tentang produksi bunyi, transmisinya, dan
penerimaannya. Fonetik adalah bagian
dari linguistik yang mempelajari proses ujaran atau bunyi bahasa tanpa
memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau
tidak. Bunyi bahasa yaitu lambang bahasa adalah bunyi-bunyi yang dihasilkan
oleh alat ucap manusia. Sedangkan bunyi yang tidak dihasilkan oleh alat ucap
manusia tidak termasuk bunyi bahasa. Bunyi bahasa disebut sebagai primer,
sedangkan tulisan sebagai hal yang sekunder. Bahasa tulisan merupakan rekaman
dari bahsa lisan.
Bunyi
bahasa sekurang-kurangnya dapat dianalisi dari tiga sudut pandang yaitu:
(1) Sumber
bunyi bahasa dari alat ucap manusia.
(2) Penerimaan
bunyi bahasa.
(3) Bunyi itu sebagai ”objek fisikal”.
Studi fonetik umumnya dibagi menjadi tiga bagian
yaitu:
a. Fonetik
akustik (acoustic phonetics)
b. Fonetik
auditoris (auditory phonetics)
c. Fonetik
organis atau artikulatoris (articulatory phonetics)
Fonetik memiliki dua manfaat, yaitu:
a. Manfaat teoretis
b. Manfaat praktis
BAB
IV
PROSES
PRODUKSI BUNYI BAHASA
Kecepatan
bunyi yang merambat di udara yaitu 1.224 km/jam. Bunyi melambat merambat bila
suhu dan tekanan udara lebih rendah misal di udara tipis (dingin) yaitu pada
ketinggian lebih dari 11 km maka kecepatan bunyi hanya 1000 km/jam. Bunyi
kecepatan merambatnya di air sebesar 5.400 km/jam. Bunyi adalah pemampatan
mekanis atau gelombang longitudinal yang merambat melalui medium. Medium
(perantara) berupa zat cair, padat, dan gas. Manusia mendengarbunyi saat
gelombang bunyi ditangkap telinga yaitu saat getaran di udara. Batas frekuensi
bunyi yang dapat di dengar oleh manusia sekitar 20Hz (infrasonik) sampai 20 KHz
(ultrasonik).
Ada
empat proses bunyi bahasa,yaitu:
(a) proses mengalirnya udara dari paru-paru,
(b) proses fonasi yang terjadi di daerah pita-pita
suara,
(c) proses
oro-nasal mengalirkan udara ke rongga hidung pada saat mengucapkan bunyi nasal
atau sengau,
(d)proses
artikulasi yang terjadi di rongga mulut yaitu terhalangkan arus udara yang
mengalir di titik-titik artikulasi atau di daerah artikulasi.
BAB
V
ALAT
UCAP MANUSIA
Alat
ucap sebenarnya berfungsi biologis atau fisiologis sebagai primernya. Contoh:
makan, minum, dll. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan berbahasa yaitu saat
menghasilkan bunyi-bunyi bahasa alat ucap ini berfungsi verbal (linguistis).
Alat ucap ini berada di dalam rongga mulut manusia. Nama bunyi bahasa atau alat
ucap manusia yang digunakan dalam studi fonetik meliputi:
a.) laringal
b.) faringal
c.) dorsal
d.) medial
e.) laminal
f.) apikal
g.) uvular
h.) velar
i.) palatal
j.) alveolar
k.) dental
l.) labial
m.) nasal
n.) atau
organ mulut manusia dalam studi fonetik adalah bibir, gusi dalam, langit lunak,
langit keras, lidah, dan tenggorokan.
Cara
kerja alat ucap manusia yaitu pertama kali udara yang ada di paru-paru yang
sudah di hirup dari luar di pompa ke luar paru-paru melalui tenggorokan ke
pangkal tenggorokan ke tempat pita-pita
suara ( terjadi proses fonasi ). Pita suara harus terbuka agar arus udara yang
keluar dari paru-paru dapat melalui rongga mulut( terjadi proses artikulasi )
atau ke rongga hidung (terjadi proses oro-nasal). Udara yang dari paru-paru
bila dipompakan tidak mengalami hambatan, maka tidak ada bunyi bahasa yang
terdengar. Bunyi bahasa terproduksi apabila terhalang terdengarlah bunyi
bahasa.
BAB
VI
BUNYI
SEGMENTAL
Bunyi
segmental meliputi bunyi vokoid dan bunyi kontoid. Vokoid disebut dengan monoftong/vokal
murni/pure vowels. Bunyi segmental
adalah bunyi bahasa yang dapat disegmentasikan. Bunyi ini sebagai material
utama dalam ujaran, sedangkan bunyi supraseggental akan memngikuti ketika bunyi
segmental diujarkan.
Klasifikasi
bunyi vokoid terdiri dari sistem vokal kardinal yaitu bunyi vokal yang
mempunyai kuaitas bunyi tertentu, yang dipilih sedemikian rupa untuk dibentuk
dalam suatu rangka gambar bunyi. Klasifikasi bunyi vokal berdasarkan: tinggi
rendah lidah, bagian lidah yang bergerak, striktur (jarak lidah
denganlangit-langit), dan bentuk bibir.
Tinggi rendahnya lidah:
1. Vokal
tinggi
2. Vokal
madya
3. Vokal
rendah
Bagian lidah yang bergerak:
1. Vokal
depan
2. Vokal
tengah
3. Vokal
belakang
Striktur merupakan keadaan hubungan posisional
artikulator aktif dengan artikulator pasif, terdiri:
1. Vokal
tertutup
2. Vokal
semi-tertutup
3. Vokal
semi-terbuka
4. Vokal terbuka
Bentuk bibir:
1. Vokal
bulat
2. Vokal
netral
3. Vokal
takbulat
BAB
VII
BUNYI
SUPRASEGMENTAL
Bunyi
suprasegmental merupakan unsur segmental yang berlangsung ketika bunyi
segmental diproduksi yang tidak bisa disegmen-segmenkan karena kehadiran bunyi
ini menindih baik dalam vokoid dan kontoid. Macam bunyi suprasegmenta, terdiri:
1. Tekanan/
aksen/ stress, yakni tekanan menyangkut keras lunak (lemah)-nya bunyi.
2. Panjang/
Kuantitas/ Durasi, yakni lamanya bunyi diucapkan.
3. Jeda/
Persendian, yakni menyangkut perhentian bunyi dalam bahasa.
4. Nada/
Pitch, yakni menyangkut tinggi rendahnya suatu bunyi. Suatu bunyi segmental
yang diucapkan dengan frekuensi getaran yang tinggi, pastilah dibarengi dengan
bunyi suprasegmental dengan ciri prosodi nada tinggi.
BAB VIII
DESKRIPSI BUNYI BAHASA
Bunyi bahasa dalam studi linguistik
biasanya tidak disebut dengan mengucapkan bunyi bahasa yang bersangkutan tetapi
dengan mengucapkan unsur deskripsi bunyi bahasa. Kemampuan menguasai bunyi
bahasa ditunjukan dengan membuat deskripsi setiap bunyi bahasa. Deskripsi ini
diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pengenalan terhadap bunyi bahasa. Bunyi
bahasa dapat di klasifikasikan ke dalam bunyi vokal, konsonan, dan diftong.
Berikut contoh salah satu deskripsi bunyi vokal:
|
[i]
|
Vokal
Tinggi
atas
Depan
Tertutup
Tak
Bulat
|
|
[e]
|
Vokal
Madya
atas
Depan
Semitertutup
Tak
Bulat
|
Berikut contoh salah satu deskripsi bunyi konsonan:
|
[p]
|
Konsonan
Rapat
lepass tiba-tiba, hambat letup
Bilabial
Tak
bersuara
|
|
[k]
|
Konsonan
Rapat
lepas tiba-tiba, hambat letup
Dorso-velar
Tak
bersuara
|
Berikut contoh salah satu dari deskripsi bunyi
diftong:
|
[oi]
|
Diftong
Naik-menutup-maju
|
|
[au]
|
Diftong
Naik-menutup-mundur
|
Pada
dasarnya bunyi bahasa dalam hal ini menjelaskan adanya deskripsi bunyi bahasa
yang berkaitan dengan konsonan, vokal, striktur, cara dihambat, daerah
artikulasi, bergetar/tidak pita suara/bersuara/tak bersuara.
BAB
IX
TRANSKRIPSI
FONETIS
Secara
etimologis bahwa transkripsi berasal dari trans ‘pindah, memindah, mengubah,
dan skripsi tulisan’. Bab ini menguraikan agar mahasiswa yang mengikuti
perkuliahan fonetik sampai pada pembentukan keterampilan menuliskan ujaraan
yang didengar ke dalam wujud tulisan. Tulisan yang dimaksud adalah tulisan
fonetis. Studi fonetik merupakan potensi yang melibatkan hafalan, pemahaman,
keterampilan pelafalan, keteramppilan pentranskripsian, dan aktivitas lainnya.
Tulisan fonetis bertujuan menuliskan bunyi bahasa.
Simbol
fonetis yang digunakan adalah sebenarnya berdasarkan huruf-huruf Latin yang
mengalami penambahan tertentu, misal:
1. Tanda
diakritik
2. Sejumlah
perubahan huruf yang digunakan
Tulisan yang dikerjakan dalam
menangani bahasa, meliputi:
a. Tulisan
fonetis
b. Tulisan
morfologi
c. Tulisan
ortograsif
Tujuan transkripsi fonetis, yaitu:
1) Memberikan
contoh pelafalan yang sesuai dengan bahasa tertentu.
2) Memberi
gambaran kesalahan pelafalan yang dilakukan oleh seseorang.
3) Menyarankan
bunyi bahasa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar