Rabu, 13 Maret 2013



REPRODUKSI RINGKASAN BUKU
FONETIK




 

Penulis             : Drs. Agus Budi Wahyudi, M. Hum.
Penerbit           : PBSID FKIP UMS dan bukutujju
Halaman          : 100 halaman
Ukuran            :14 *20,5 cm
Kategori          : Buku Non Fiksi
Terbit               : 1 Januari 2013
Harga              : Rp. 29.000

BAB I
PENDAHULUAN

            Linguistik dipelajari dari segi mikrolinguistik artinya kajian itu tanpa melibatkan ilmu lain. Fonetik sebagai cabang linguistik deskriptif. Fonetik  sebagai alat bantu linguis, sebagai bekal untuk persiapan diri menjalani profesi guru bahasa, dan merupakan ilmu yang sangat berkembang, maka disebut sebagai fonetik interdisipliner.
            Hakikat bahasa adalah bunyi. Bunyi itu dapat diindera dengan indera pendengar. Mahasiswa diharapkan mempersiapkan ketajaman telinga sehingga dapat memahami materi dengan baik terutama dalam ilmu fonetik. Fonetik itu memiliki sifat mekanisme sehingga istilah-istilah yang melekat di dalam fonetik harus dikuasai dengan strategi yang cocok bagi setiap individu. 

BAB II
PEMBAHASAN
ILMU BUNYI BAHASA SEBAGAI SUBKAJIAN LINGUISTIK

            Perkataan linguistik diartikan “ilmu bahasa”. Linguistik berasal dari bahasa Latin (Lingua). Kata Padanan dalam bahasa Italia (Lingua), bahasa Spanyol (Lengua), dan bahasa Perancis (Langue). Ahli bahasa dalam bahasa Inggris disebut linguist dan dalam bahasa Indonesia disebut linguis. Linguistik sebagai ilmu mengkaji seluruh komponen bahasa.
Linguistik didefinisikan sebagai kajian bahasa secara ilmiah.  Pengkajian bahasa wajib mempersiapkan dirinya belajar memandang bahasa secara objektif. Pandangan yang objektif yaitu memandang bahasa sebagai bahasa. Linguistik bersifat sistematis dan objektif. Sistematis artinya beraturan, memiliki pola, ada generalisasi yang utuh, tidak terpisah, merupakan satu kesatuan yang bagian-bagiannya sejalan, dan semuanya mendukung suatu kesatuan. Linguistik sebagai ilmu bahasa dibagi dalam sub atau bidang, meliputi bidang fonetik, fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Bunyi bahasa merupakan ilmu kajian fonetik dan fonologi.

BAB III
FONETIK: KAJIAN BUNYI-BUNYI BAHASA

            Bahasa terdiri atas bunyi dan susunan bunyi. Kajian tentang bunyi disebut fonologi dan fonetik. Fonetik mengkaji tentang produksi bunyi, transmisinya, dan penerimaannya.  Fonetik adalah bagian dari linguistik yang mempelajari proses ujaran atau bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak. Bunyi bahasa yaitu lambang bahasa adalah bunyi-bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Sedangkan bunyi yang tidak dihasilkan oleh alat ucap manusia tidak termasuk bunyi bahasa. Bunyi bahasa disebut sebagai primer, sedangkan tulisan sebagai hal yang sekunder. Bahasa tulisan merupakan rekaman dari bahsa lisan.
            Bunyi bahasa sekurang-kurangnya dapat dianalisi dari tiga sudut pandang yaitu:
(1)   Sumber bunyi bahasa dari alat ucap manusia.
(2)   Penerimaan bunyi bahasa.
(3)    Bunyi itu sebagai ”objek fisikal”.
Studi fonetik umumnya dibagi menjadi tiga bagian yaitu:
a.       Fonetik akustik (acoustic phonetics)
b.      Fonetik auditoris (auditory phonetics)
c.       Fonetik organis atau artikulatoris (articulatory phonetics)
Fonetik memiliki dua manfaat, yaitu:
a.        Manfaat teoretis
b.       Manfaat praktis

BAB IV
PROSES PRODUKSI BUNYI BAHASA

            Kecepatan bunyi yang merambat di udara yaitu 1.224 km/jam. Bunyi melambat merambat bila suhu dan tekanan udara lebih rendah misal di udara tipis (dingin) yaitu pada ketinggian lebih dari 11 km maka kecepatan bunyi hanya 1000 km/jam. Bunyi kecepatan merambatnya di air sebesar 5.400 km/jam. Bunyi adalah pemampatan mekanis atau gelombang longitudinal yang merambat melalui medium. Medium (perantara) berupa zat cair, padat, dan gas. Manusia mendengarbunyi saat gelombang bunyi ditangkap telinga yaitu saat getaran di udara. Batas frekuensi bunyi yang dapat di dengar oleh manusia sekitar 20Hz (infrasonik) sampai 20 KHz (ultrasonik).
            Ada empat proses bunyi bahasa,yaitu:
(a) proses mengalirnya udara dari paru-paru,
(b) proses fonasi yang terjadi di daerah pita-pita suara,
(c) proses oro-nasal mengalirkan udara ke rongga hidung pada saat mengucapkan bunyi nasal atau sengau,
(d)proses artikulasi yang terjadi di rongga mulut yaitu terhalangkan arus udara yang mengalir di titik-titik artikulasi atau di daerah artikulasi.

BAB V
ALAT UCAP MANUSIA

            Alat ucap sebenarnya berfungsi biologis atau fisiologis sebagai primernya. Contoh: makan, minum, dll. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan berbahasa yaitu saat menghasilkan bunyi-bunyi bahasa alat ucap ini berfungsi verbal (linguistis). Alat ucap ini berada di dalam rongga mulut manusia. Nama bunyi bahasa atau alat ucap manusia yang digunakan dalam studi fonetik meliputi:

a.)    laringal
b.)    faringal
c.)    dorsal
d.)   medial
e.)    laminal
f.)     apikal
g.)    uvular
h.)    velar
i.)      palatal
j.)      alveolar
k.)    dental
l.)      labial
m.)   nasal
n.)    atau organ mulut manusia dalam studi fonetik adalah bibir, gusi dalam, langit lunak, langit keras, lidah, dan tenggorokan.
            Cara kerja alat ucap manusia yaitu pertama kali udara yang ada di paru-paru yang sudah di hirup dari luar di pompa ke luar paru-paru melalui tenggorokan ke pangkal tenggorokan ke  tempat pita-pita suara ( terjadi proses fonasi ). Pita suara harus terbuka agar arus udara yang keluar dari paru-paru dapat melalui rongga mulut( terjadi proses artikulasi ) atau ke rongga hidung (terjadi proses oro-nasal). Udara yang dari paru-paru bila dipompakan tidak mengalami hambatan, maka tidak ada bunyi bahasa yang terdengar. Bunyi bahasa terproduksi apabila terhalang terdengarlah bunyi bahasa.

BAB VI
BUNYI SEGMENTAL

            Bunyi segmental meliputi bunyi vokoid dan bunyi kontoid. Vokoid disebut dengan monoftong/vokal murni/pure vowels.  Bunyi segmental adalah bunyi bahasa yang dapat disegmentasikan. Bunyi ini sebagai material utama dalam ujaran, sedangkan bunyi supraseggental akan memngikuti ketika bunyi segmental diujarkan.
            Klasifikasi bunyi vokoid terdiri dari sistem vokal kardinal yaitu bunyi vokal yang mempunyai kuaitas bunyi tertentu, yang dipilih sedemikian rupa untuk dibentuk dalam suatu rangka gambar bunyi. Klasifikasi bunyi vokal berdasarkan: tinggi rendah lidah, bagian lidah yang bergerak, striktur (jarak lidah denganlangit-langit), dan bentuk bibir.
Tinggi rendahnya lidah:
1.      Vokal tinggi
2.      Vokal madya
3.      Vokal rendah
Bagian lidah yang bergerak:
1.      Vokal depan
2.      Vokal tengah
3.      Vokal belakang    
Striktur merupakan keadaan hubungan posisional artikulator aktif dengan artikulator pasif, terdiri:
1.      Vokal tertutup
2.      Vokal semi-tertutup
3.      Vokal semi-terbuka
4.       Vokal terbuka
Bentuk bibir:
1.      Vokal bulat
2.      Vokal netral
3.      Vokal takbulat


BAB VII
BUNYI SUPRASEGMENTAL

            Bunyi suprasegmental merupakan unsur segmental yang berlangsung ketika bunyi segmental diproduksi yang tidak bisa disegmen-segmenkan karena kehadiran bunyi ini menindih baik dalam vokoid dan kontoid. Macam bunyi suprasegmenta, terdiri:
1.      Tekanan/ aksen/ stress, yakni tekanan menyangkut keras lunak (lemah)-nya bunyi.
2.      Panjang/ Kuantitas/ Durasi, yakni lamanya bunyi diucapkan.
3.      Jeda/ Persendian, yakni menyangkut perhentian bunyi dalam bahasa.
4.      Nada/ Pitch, yakni menyangkut tinggi rendahnya suatu bunyi. Suatu bunyi segmental yang diucapkan dengan frekuensi getaran yang tinggi, pastilah dibarengi dengan bunyi suprasegmental dengan ciri prosodi nada tinggi.


BAB VIII
DESKRIPSI BUNYI BAHASA

Bunyi bahasa dalam studi linguistik biasanya tidak disebut dengan mengucapkan bunyi bahasa yang bersangkutan tetapi dengan mengucapkan unsur deskripsi bunyi bahasa. Kemampuan menguasai bunyi bahasa ditunjukan dengan membuat deskripsi setiap bunyi bahasa. Deskripsi ini diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pengenalan terhadap bunyi bahasa. Bunyi bahasa dapat di klasifikasikan ke dalam bunyi vokal, konsonan, dan diftong. Berikut contoh salah satu deskripsi bunyi vokal:



[i]
Vokal
Tinggi atas
Depan
Tertutup
Tak Bulat



[e]
Vokal
Madya atas
Depan
Semitertutup
Tak Bulat


Berikut contoh salah satu deskripsi bunyi konsonan:

[p]
Konsonan
Rapat lepass tiba-tiba, hambat letup
Bilabial
Tak bersuara


[k]
Konsonan
Rapat lepas tiba-tiba, hambat letup
Dorso-velar
Tak bersuara

Berikut contoh salah satu dari deskripsi bunyi diftong:

[oi]
Diftong
Naik-menutup-maju

[au]
Diftong
Naik-menutup-mundur
           
            Pada dasarnya bunyi bahasa dalam hal ini menjelaskan adanya deskripsi bunyi bahasa yang berkaitan dengan konsonan, vokal, striktur, cara dihambat, daerah artikulasi, bergetar/tidak pita suara/bersuara/tak bersuara.

BAB IX
TRANSKRIPSI FONETIS

            Secara etimologis bahwa transkripsi berasal dari trans ‘pindah, memindah, mengubah, dan skripsi tulisan’. Bab ini menguraikan agar mahasiswa yang mengikuti perkuliahan fonetik sampai pada pembentukan keterampilan menuliskan ujaraan yang didengar ke dalam wujud tulisan. Tulisan yang dimaksud adalah tulisan fonetis. Studi fonetik merupakan potensi yang melibatkan hafalan, pemahaman, keterampilan pelafalan, keteramppilan pentranskripsian, dan aktivitas lainnya. Tulisan fonetis bertujuan menuliskan bunyi bahasa.
            Simbol fonetis yang digunakan adalah sebenarnya berdasarkan huruf-huruf Latin yang mengalami penambahan tertentu, misal:
1.      Tanda diakritik
2.      Sejumlah perubahan huruf yang digunakan
Tulisan yang dikerjakan dalam menangani bahasa, meliputi:
a.       Tulisan fonetis
b.      Tulisan morfologi
c.       Tulisan ortograsif
Tujuan transkripsi fonetis, yaitu:
1)      Memberikan contoh pelafalan yang sesuai dengan bahasa tertentu.
2)      Memberi gambaran kesalahan pelafalan yang dilakukan oleh seseorang.
3)      Menyarankan bunyi bahasa.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar