Kamis, 06 Maret 2014

PSYCHOLINGUISTICS DEFINITION



PUJI LESTARI
A310120174
6E
Psycholinguistics

         What is a psycholinguistics?
     Bloomer, Griffths, and Merrison (2005:342) said that psycholinguistics is the study of this relationship between language and the mind. It tackles at least six huge areas of vital importance to an understanding of what language is. They are language acquisition, brain and language, lexical knowledge, memory and language, language processing, and language difficulies.
       Maka, dapat diartikan sesuai pendapat Bloomer, Griffths, and Merrison (2005:342) bahwa psikolinguistik merupakan suatu ilmu yang mengkaji hubungan antara bahasa dan pikiran (ilmu jiwa). Psikolinguistik menangani setidaknya enam bidang besar sangat penting untuk memahami suatu bahasa. Mereka adalah penguasaan bahasa, otak dan bahasa, pengetahuan leksikal, memori dan bahasa, pemrosesan bahasa, dan kesulitan bahasa.
      Senada dengan pendapat Bloomer, Griffths, dan Merrison, maka Herbert Schendl (2007:70) memaparkan bahwa:
"Psycholinguistics explanations of change focus on the cognitive processes in the brain of the spaker and are particularly related to the different versions of generative theoris of language as first developed by Noam Chomhsky".
Jadi, dapat diartikan pula bahwa psikolinguistik merupakan penjelasan mengenai perubahan fokus pada proses kognitif di otak spaker (penutur) dan secara khusus berkaitan dengan versi yang berbeda dari teori generatif bahasa sebagai pertama kali dikembangkan oleh Noam Chomhsky.
            Adapun pendapat lain yang mengatakan bahwa Psycolinguistic as the experimental study of the psycological prosses through which a human subject acquires and implements the system of natural languange (Caron, 1998: 1).
       Dari yang dijelaskan Caron dapat diasumsi bahwa psikolinguistik merupakan studi eksperimental dari proses psikologis di mana subjek manusia memperoleh dan menerapkan sistem bahasa.
    Dengan demikian, dapat saya simpulkan bahwa psikolinguistik merupakan suatu ilmu yang mempelajari dan mengkaji bahwa adanya peran bahasa dengan kondisi psikologis masyarakat, bagaimana memperoleh, menerapkan, mempengaruhi, dan saling memahami suatu bahasa antar manusia . Jadi, psikolinguistik itu memiliki peran penting bagi manusia untuk menciptakan suatu kondisi yang harmonis antarmanusia dengan menghadirkan bahasa yang menjadi alat komunikasi. Dengan begitu, berarti ada proses yang mengintergrasikan antara bahasa dengan ilmu jiwa. Psikolinguistik juga berkaitan dengan penguasaan bahasa, otak dan bahasa, pengetahuan leksikal, memori dan bahasa, pemrosesan bahasa, dan kesulitan bahasa, juga ada proses kognitif dan metakognitif yang mewakilinya.


DAFTAR PUSTAKA


Bloomer, Aileen, Griffths Patrick and Andrew John Merrison. 2006. Introducing Languange In Use. London and New York. Routledge Taylor and Prancis Group.

Caron, Jean. 1992. An Improduction to Psycholinguistics. New York: Harvester Wheatsheaf.

Schendl, Herbert. 2001. Historical Linguistics.  New York: Oxford University Press.

          

 

Rabu, 26 Juni 2013



RESENSI NOVEL DAN FILM
POTRET PANJANG SANG RONGGENG
Tugas ini disusun guna memenuhi Ujian Akhir Semester Membaca Komprehensif
Pengampu: M. Fakhrur Saifudin





Disusun oleh:

PUJI LESTARI          A310120174


PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2013
 




RESENSI NOVEL DAN FILM 
POTRET PANJANG SANG RONGGENG



 IDENTITAS BUKU
Judul : Ronggeng Dukuh Paruk
Penulis : Ahmad Tohari
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 408 Halaman ; 21 cm
Tahun Terbit : 1982
Cetakan : 2003
Jenis Buku : Fiksi
Harga buku: Rp25.000,00

Latar Belakang Pengarang
Untuk lelaki, perempuan, dan anak-anak Dukuh Paruk.
Kemarau pada saat ini mungkin tidak lagi segempar dan sedahsyat pada masa lalu ketika hutan-hutan jati di daerah Jatilawang mengering, penduduk kelaparan, dan tanah pecah-pecah. Semua itu terjadi pula di kawasan Banyumas, Jawa Tengah pada masa lampau. Dahulu, seperti yang ditunjukan Ahmad Tohari (1957), penulis yang pernah bereproduksi dalam sebuah novel Ronggeng Dukuh Paruk menggambarkan pada saat itu hutan  berkobar menjadi korban akibat pertikaian politik yang merasuk dan menyapu ke desa-desa sebelum tahun1965.
Ahmad Tohari, pujangga legendaris yang di lahirkan di desa Tinggarjaya, Kecamatan  Jatilawang, Banyumas, 13 Juni 1948. Jika ditilik dari segi pendidikannya, secara formal hanya mencapai SMTA di SMAN II Purwokerto. Namun demikian, ia pernah mengenyam bangku kuliah, seperti Fakultas Ilmu Kedokteran Ibnu Khaldun, Jakarta (1967-1970), Fakultas Ekonomi Universitas Sudirman, Purwokerto (1974-1975), dan Fakultas Sosial Politik Universitas Sudirman (1975-1976). Anehnya, semuanya tak ada yang ditekuninnya.
 Ahmad Tohari pernah menjadi staf redaktur harian Merdeka selama dua tahun di majalah Keluarga dan majalah Amanah di Jakarta.  Dalam karir kepengarangannya, penulis yang berlatar kehidupan pesantren ini telah melahirkan novel dan kumpulan cerita pendek. Jiwa  kepenulisan Ahmad Tohari tidak pernah melepaskan diri dari pengalaman hidup kedesaannya sehingga semua karyanya bercorak lapisan bawah dengan latar alam yang begitu suci. Maka wajar, jika ia merasa begitu terikat dengan alam sehingga ia memutuskan kembali berada di tengah sawah di antara lumpur dan katak, di antara lumut dan batu cadas di desanya.
Novel pertama yang berhasil terbit, yakni Di Kaki Bukit Cibalak pada tahun 1977. Kemudian Kubah terbit 1980 dan dinyatakan sebagai karya fiksi terbaik saat itu oleh Yayasan Buku Utama. Gramedia menerbitkan novelnya yang ketiga Ronggeng Dukuh Paruk (1981). Ahmad Tohari menghasilkan karya novel ini yang menjadi penyatuan trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala, dengan memasukkan kembali bagian-bagian yang tersensor selama 22 tahun. Bukankah begitu manis?
Ronggeng Dukuh Paruk, novel yang diterbitkan tahun 1982 berkisah tentang kekalutan dan pergolakan seorang ronggeng di dusun kecil bernama Dukuh Paruk pada masa pergolakan komunis. Karyanya ini dianggap kekiri-kirian oleh pemerintah Orde Baru sehingga Tohari diinterogasi selama berminggu-minggu. Hingga akhirnya Tohari menghubungi sahabatnya Gus Dur dan akhirnya terbebas dari intimidasi dan jerat hukum.
Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul The Dancer oleh Rene T.A. Lysloff. Trilogi ini juga difilmkan oleh sutradara Ifa Irfansyah dengan judul "Sang Penari" (2011). Tohari memberikan apresiasi yang tinggi terhadap para pembuat film Sang Penari dan berujar akan jadi dokumentasi visual yang menarik versi rakyat, bukan versi kota sebagaimana dalam film-film sebelumnya. Pada bulan Desember 2011, Ahmad Tohari mengungkapkan bahwa dirinya berencana untuk melanjutkan Triloginya menjadi Tetralogi dengan membuat satu novel lagi.

Sinopsis Cerita
          Dukuh Paruk merupakan simbol kehidupan yang menggambarkan kemelaratan, kebodohan, dan tak mampu mengembangkan akal budi. Namun, Dukuh Paruk menjadi kiblat kehidupan kebatinan mereka. Konon, moyang mereka semua Dukuh Paruk adalah Ki Secamenggala, seorang bromocoran yang menghabiskan riwayat keberandalannya. Di Dukuh Paruk inilah akhirnya Ki Secamenggala menitipkan darah dagingnya. (hal.10)
          Oleh karena itu, mereka memujanya. Bagi pedukuhan yang kecil, miskin, terpencil namun bersahaja itu, ronggeng adalah perlambang kehidupan. Tanpa adanya seorang ronggeng, dukuh itu akan kehilangan jati diri. Srintil menjadi tokoh yang amat terkenal dan digandrungi karena cantik dan menggoda.
          Sejak kecil Srintil telah memilki indang untuk menjadi Ronggeng di Dukuh Paruk. Keyakinan itu sudah diyakini oleh Sakarya, kakek Srintil. Sakarya sering memperhatikan  Srintil ketika Srintil kerasukan indang ronggeng di bawah pohon nangka. Jelas, Srintil berhasil bermimik penagih berahi seperti ronggeng sejati dan mampu menirukan dengan baiknya gaya seorang ronggeng. Bahkan, seorang gadis kencur seperti Srintil mampu bernyanyi lagu erotik.
          Seiring berjalannya waktu, Srintil berhasil dinobatkan menjadi ronggeng Dukuh Paruk ditemani Keris Kyai Jaran Guyang pemberian Rasus dan harus mengikuti serangkaian upacara tradisional ronggeng yang puncaknya pada malam bukak klambu. Hal ini membuat hati Rasus hancur karena ia tidak bisa berbuat apa-apa terhadap Srintil yang secara resmi milik semua orang. Jelas, Rasus sangat mencintai Srintil. Kemudian Rasus memilih untuk meninggalkan Srintil.
          Srintil tumbuh dalam prosesi-prosesi ronggeng dan dicintai oleh penduduk Dukuh Paruk bahkan di luar daerah Dukuh Paruk pun begitu tergila-gila dengannya. Anehnya, semua para wanita yang memiliki suami sangat bangga jika suaminya bisa tidur dengan Srintil. Hal ini merupakan salah satu kebanggaan mereka terhadap ronggeng yang dianggap sumber kehidupan. Semua orang berlomba-lomba memfasilitasi seorang ronggeng; membelikan kosmetik, mengolahkan makanan, mencucikan baju dan sebagainya. Bagi desanya sendiri, ronggeng merupakan simbol kejayaan.
          Disisi lain, kepergian Rasus ternyata membekaskan luka yang mendalam di hati Srintil dan kelak besar sekali pengaruhnya terhadap perjalanan hidupnya yang berliku. Srintil mulai berontak dari ketentuan yang telah lama mengakar dalam dunia peronggengan, terutama dalam masalah hubungan antara seorang ronggeng dengan dukunnya. Rasus yang terluka hatinya memilih meninggalkan Dukuh Paruk dan akhirnya menjadi seorang prajurit atau tentara yang gagah.
          Perpisahan tersebut menghasilkan peristiwa yang begitu pelik dan manja. Pertama, menjelang usia dua puluh kedirian Srintil mulai teguh. Apalagi, sejak pertemuannya dengan Goder, bayi mungil yang memiliki senyuman teduh di hati Srintil dan mampu memudarkan dilema Srintil. Srintil bermatabat, cantik, segar, dan mampu menampik laki-laki yang tidak disukainya. Rasus sendiri ditundukkannya dalam dunia angan-angan dan Srintil merasa menang. Dunia akhirnya mempercayakan dan meyakinkannya untuk menjadi gowok.  Seorang Gowok, ya... itu bisa menjadi cerita lucu bagi kehidupan Srintil yang masih bisa dikatakan gagal.
           Kedua, ketika hati Srintil terenyuh untuk membantu kemelaratan Sakum dan dunia kebusukan Dukuh Paruk dengan cara menerima tawaran menari dari Kantor Kecamatan Dawuan yang akan menggelar pentas kesenian menyambut perayaan Agustusan. Namun, hal ini tidak menghasilkan sesuatu yang menggembirakan, melainkan bencana bagi Dukuh Paruk. Srintil harus berbagi pada potongan lintasan hidupnya secara tidak bisa dimengerti oleh dirinya, ronggeng itu dan Dukuh Paruk terlibat dalam kekalutan politik pada tahun 1965 yang berbau orang-orang Partai Komunis Indonesia (PKI). Alhasil, Dukuh Paruk kembali lagi menjadi miskin dan tak berdaya diiringi jeratan tahanan yang mencekik.
          Pengalaman pahit yang dialaminya sebagai tahanan politik membuat Srintil sadar akan harkatnya sebagai manusia. Setelah bebas, ia berniat memperbaiki citra dirinya dengan tak lagi melayani lelaki manapun dan menjadi wanita somahan. Suatu ketika Bajus muncul dalam hidup Srintil, sepercik harapan pun muncul. Sepercik harapan itu pun mudah sirna, entah mengapa... ada apakah gerangan? Ya, akhirnya Rasus menemui Srintil dengan keadaan yang tidak memanusia.

Unsur-unsur Intrinsik Novel dan Film     
Tema yang terdapat dalam cerita ini tidak lepas dari suatu adat atau kebudayaan yang begitu terikat dengan moyang mereka, yakni Ki Secamenggala. Sebuah budaya ronggeng yang dimilki sebuah desa Dukuh Paruk.

1.    Tokoh dan Perwatakan
a.     Sang Ronggeng Srintil
Srintil adalah anak yatim piatu yang berkeinginan untuk menjadi ronggeng. Dia pandai menari, bertembang, wajah teduh, cantik, dan pandai memikat. Srintil yang kenes dan kemayu. Hal ini dibuktikan pada petikan berikut :
          Mimik penagih berahi yang selalu ditamilkan oleh seorang ronggeng yang sebenarnya, juga diperbuat oleh Srintil saat itu. Lenggok lehernya, lirik matanya, bahkan cara Srintil menggoyangkan pundak akan memukau laki-laki dewasa mana pun yang melihatnya. Jari tangannya melentik kenes. (halaman 13)
          Srintil juga cerdik. Hal ini terlihat ketika ia tidak mau diperawani oleh Dower dan Sulam, kemudian ia malah menemui Rasus, lelaki yang ia cintai. Srintil memiliki sifat yang tulus. Hal ini terdapat dalam petikan  berikut:
Srintil hanya ingin disebut sebagai perempuan utuh. Dia sungguh-sungguh ingin melahirkan anakku dari rahimnya.(halaman 144)
b.    Rasus
Rasus adalah anak laki-laki yatim piatu yang menyukai bahkan mengagumi Srintil karena sebuah alasan ia melihat sosok emaknya pada sosok Srintil. Rasus termasuk anak yang tekun dan rajin, terbukti semasa kecilnya ia kerap membantu neneknya menggembalakan kambing, meskipun terkadang dilepaskan secara liar karena hendak melihat Srintil. Rasus juga patuh dan memiliki rasa tanggung  jawab ketika ia menjadi seorang tentara.
Rasus memiliki sifat pendendam. Hal ini tercermin pada pendapatnya mengenai ibunya yang pergi dan ketika pelatuknya menembakkan peluru ke arah tiruan mantri kesehatan. Namun, Rasus memiliki sifat yang kritis ditunjukkan ketika dia menyatakan pendapat dan menentang asal-usul kejadian tempe bongkrek, dia lebih mempercayai bahwa musibah itu terjadi karena sejenis bakteri, lantas berkaitan dengan emaknya dia juga selalu menanyakan kebenaran. Rasus juga cerdas. Ketika dia memberikan pepaya kepada Srintil, namun Srintil lebih menginginkan jeruk keprok, namun dijawabnya bahwa jeruk keprok tidak baik untuk gigi Srintil yang baru saja dipangur.
Rasus berjiwa Idealis. Ini ditunjukkan dalam penggalan cerita ketika Srintil meminta Rasus berbuat mesum, namun demi mengingat emaknya Rasus menolak dan mengatakan alasan bahwa akan kualat bersetubuh di makam Secamenggala. Rasus juga memiliki penuh kasih sayang. Hal ini terbukti pada petikan berikut:
“Rasus duduk memutar bada setengah lingkaran. Ditatapnya cermin sejarah pada keriput wajah Nenek. Yang paling jelas adalah gambar penderitaan akibat ulah Rasus sendiri, yang telah meninggalkan neneknya sebatabg kara selama dua tahun lebih.”( halaman 258)
c.     Sakarya
Sakarya, kakek Srintil yang amat patuh pada adat. Sakarya sangat memercayai keberadaan Ki Secamenggala. Sakarya bahkan membuat Srintil menjadi seorang ronggeng di usia muda. Hal ini terlihat dari bagaimana Sakarya sangat percaya kepada Ki Secamenggala.
d.    Kartareja
Kartareja, dukun ronggeng di Dukuh Paruk. Ia memiliki sifat yang licik. Hal ini tercermin pada sikapnya ketika malam bukak klambu, ia melakukan kelicikan terhadap Dower dan Sulam. Namun, pada dasarnya dia baik. Hal ini tercermin dari sifat dan sikapnya yang tidak pernah memberikan kekerasan terhadap Srintil.
e.     Istri Kartareja
Istri Kartareja juga sama halnya dengan suaminya, licik. Nyai Kartareja juga pandai memikat dan menaklukkan orang yang sedang emosi. Terbukti ketika Nyai Kartareja menaklukkan emosi dua orang pemuda yang hendak mewisuda keperawanan Srintil.
Ada pun tokoh-tokoh lainnya seperti Warta, Pak Bakar, Goder, Darsun, Sakum, , , Nenek Rasus, orang tua Srintil, dan warga Dukuh Paruk lainnya juga sang leluhur yang warga Dukuh Paruk, Ki Secamenggala.
2.    Alur/Plot
Alur dalam cerita ini menggunakan alur arus bolak-balik/campuran. Hal ini terbukti dari cerita Srintil yang kembali ke masa lalu mengenai orang tua dan warga Dukuh Paruk yang keracunan tempe bongkrek. Menurut saya cerita ini terlihat seperti melompat-lompat. Apalagi, seperti ada sesuatu yang hilang atau mungkin memang disengaja ketika penggunaan alur penceritaan dari usia Rasus yang ke-14 tahun menuju penceritaan pada saat usia Rasus yang ke-20 tahun. Akhir ceritanya pun seperti ada yang menggantung atau seperti belum selesai. Hal ini dapat dipahami karena novel ini adalah novel pertama dari trilogi novel yang ada sehingga alur terkesan melompat-lompat.
3.                   Latar Tempat dan Waktu
           Latar digambarkan secara umum di sebuah perkampungan Dukuh Paruk sekitar tahun 1946 sampai 1975. Latar secara terperinci sebagai berikut:
a.    Di pelantara yang membatu di bawah pohon nangka ( halaman 13)
b.    Dirumah Nyai Kartareja, bukti data: “Di dalam rumah, Nyai Kartareja sedang merias Srintil dan banyak perempuan dan anak-anak memenuhi rumah Kartareja.” ( halaman 18)
c.     Di rumah Srintil, bukti data: “ Di halaman rumah Santayib seekor kodok satu-dua melompat mencari tempatnya yang gelap di kolong balai-balai. Satu dua orang telah datang membeli bongkrek.”(halaman 22)
d.    Di pekuburan Dukuh Paruk: “Di kaki bukit kecil di pekuburan Dukuh Paruk, Sakarya berdiri bersilang tangan dan aku mengira upacara pemandian di perkuburan itu adalah syarat terakhir sebelum seorang gadis sah menjadi ronggeng.” (halaman 15)
e.     Di pasar Dawuan, bukti data: “Di pasar Dawuan pula suatu kali aku dapat melihat Srintil....”(halaman 81)
f.      Di Alaswangsal, bukti data: “Senja di Alaswangsal terasa datang lebih cepat.”(halaman 212)
g.    Di Kabupaten Eling-Eling, bukti data: “ ... ribuan tahanan yang berasal dari seluruh pelosok Kabupaten Eling-Eling.”(halaman 266)
h.    Pagi, bukti data: “ Pagi yang lengang.”(halaman 44)
i.      Malam, bukti data: “ Awal malam yang ceria itu tidak berhias lengking anak-anak anak Dukuh Paruk.”( halaman 256)
j.      Sore hari: “Demikian, sore itu Srintil menari dengan mata setengah tertutup.”(halaman 13)

4.                   Sudut Pandang
           Sudut pandang pengarang terkadang sebagai orang pertama yang dijelmakan oleh Rasus. Ahmad Tohari memasukkan keakuannya terhadap Rasus, tetapi terkadang sudut pandang pengarang menjadi orang ketiga yang langsung pengarang yang melukiskannya.


5.                   Amanat
          Novel dan film ini lebih banyak menonjolkan kepatuhannya terhadap adat dan moyang mereka. Keterbelakangan dan kemelaratan mejadi corak dalam cerita ini sehingga terkesan begitu kaku, tetapi memiliki warna lokal yang menggambarkan kebersamaan.  Cerita novel ini begitu membanggakan dengan adatnya sehingga membuat buta akan dunia luar.    
             
Dunia kritisi  
Setelah kita berlayar dari samudera panjang mengenai hal si pengarang, sinopsis cerita, dan unsur intrinsik maka saatnya sekarang saya berekspresi untuk mengungkapkan  dan mencuak misterinya. Pada hakikatnya, novel ini termasuk kategori fiksi. Namun, secara realita setelah terjun ke dalam ceritanya terkesan seperti nonfiksi. Mengapa? Yah.. karena Ahmad Tohari berhasil mengemas cerita begitu nyata. Hal ini terlihat dari sorotan cerita yang mengulas tentang pergolakan kaum komunis ditandai dengan G 30 S/PKI yang mana peristiwa ini pernah terjadi di Indonesia.
Cerita novel ini begitu improvisasi yang selalu terkuak faktor ketiba-tibaan yang membuat pembaca menjadi absurd. Gaya bahasa yang penuh dengan kesederhanaan dan bermakna. Misalnya, dari judul trilogi novel tersebut saja sudah terlihat, seperti Lintang Kemukus dan Jantera Bianglala. Pemilihan kata-kata yang indah dan tak terduga. Apalagi, adanya penggambaran kedesaan yang terlihat begitu romantis dan realisme sehingga membuat pembaca mudah merasakannya secara utuh dibumbui daya kebebasan dalam berimajinasi pembaca. Beliau mampu mengambarkan secara detail dari segi bentuk dan suasana ceritanya sehingga benar-benar menjadi hidup.
Ahmad Tohari pun berhasil menyatukan cerita yang apik dalam bentuk trilogi singkat yang pas sinambungnya.  Beliau memiliki warna lokal dari kejernihan dan kedalaman tujuan dari segi intensitas bahasanya. Gaya penulisannya banyak memanfaatkan majas-majas sebagai sarana retorika untuk mengungkapkan gasgasannya. Contoh, terdapat majas metafora. Bukti data sebagai berkut:
Di pelataran yang membatu di bawah pohon nangka. Ketika angin tenggara bertiup dingin menyapu harum bunga kopi yang selalu mekar di musim kemarau”.(hlm. 13)
Hal ini memang mengesankan segi estetik yang menjadi nuansa kreasi Ahmad Tohari, menurut saya ini sangat langka. Saya terkesan ketika Tohari memilih kata ‘kecambah’ yang segar yang ditunjukan untuk Srintil. Hal ini terlihat jelas bahwa ada pemaknaan secara khusus.
Cerita Ronggeng Dukuh Paruk ini berhasil mendongengkan dengan baik bagaimana kedudukan seorang ronggeng pada masa itu. Jelas, ronggeng menjadi lambang kejayaan dan keindahan bagi mereka, meskipun hal itu tabu. Ahmad Tohari malah mampu mengemas ketabuannya menjadi lebih asri dan tidak terkesan munafik.
Ronggeng Dukuh Paruk membawa kita pada sebuah masa dimana bangsa kita diwarnai oleh desa-desa terbelakang dengan gaya hidup yang tergantung pada alam, adat dan mistik. Secara detail digambarkan aktifitas masyarakat pada masa itu yang sarat dengan nilai-nilai sosial yang mereka anut. Hal-hal inilah yang banyak dilewatkan oleh buku-buku sejarah kita yang hanya mengulas akan apa yang terjadi di ibukota dan kota-kota perjuangan lainnya.
Karakter - karakter yang dibangun begitu kuat sehingga plot apapun yang dipasang dalam cerita tidak mengurangi nilai sebuah karakter. Seperti halnya dongeng, cukup jelas antara antagonis dan protagonis. Namun kejelasan itu sendiri sesuai dengan konteks masa yang menjadi dasar cerita. Mengagumkan bahwa karakter-karakter tersebut telah mewakili banyak pihak dari masa itu. Mulai dari kepala adat hingga kontraktor, dari ibu pejabat hingga nenek miskin, dari penduduk asli hingga peranakan dan sebagainya.
Terlepas dari itu semua, ternyata masih ada juga segi kekurangannya. Padahal, semua terlihat begitu sempurna. Yah, jika tidak mana mungkin novel dan film ronggeng dukuh paruk bisa melejit hingga ke angkasa. Ditilik dari bahasa, Tohari banyak mencantumkan bahasa Jawa. Saya masih penasaran untuk makna kata-kata tertentu seperti pada kata ‘ dipangur’,  ‘gandrung’, ‘kewes’, dll. Hal ini tidak ada penjelasan lebih lanjut hanya pertandaan bahwa ini merupakan bahasa Jawa sehingga bisa menimbulkan kekecewaan secara emosional terhadap pembaca.
Penceritaannya pun terlihat seperti ada yang hilang, seperti adanya yang belum terisi dengan baik sehingga terkesan melompat-lompat seenaknya. Akhir cerita pun berakhir sad ending. Hal ini membuat saya kecewa. Imajinasi saya ketika itu sudah yakin akan berakhir bahagia seperti cerita-cerita yang ditawarkan oleh pengarang lainnya. Ternyata ajaib, Tohari mampu menepisnya dengan baik. Hal ini memang pengarang tetap teguh pada prinsip kedalaman tujuan yang sudah dibangun dari awal bahwa adanya kesejatian ronggeng maka Srintil tetap dijadikan ronggeng meskipun dengan tidak memanusia alias kelainan jiwa.

Ada apa dengan Novel dan Filmnya?
Ronggeng Dukuh Paruk merupakan novel yang menginspirasi sebuah film berjudul “Sang Penari” yang menjadi buah bibir dan menuai banyak penghargaan di salah satu ajang  apresiasi film Indonesia. Pemeran utama wanitanya adalah Prisia Nasution dan lelakinya Oka Antara.  Menurut saya berdasarkan dari hasil imajinasi, Prisia Nasution  belum masuk ke kategori kecantikan yang dimilki Srintil. Sosok ronggeng Srintil yang mungil, payudara ‘penuh’, senyum begitu menggoda, dan cekungan mata yang dalam seperti yang dilukiskan di dalam novel.
Alur cerita dari film “ Sang Penari” banyak tersensor dan terasa banyak yang hilang untuk dinikmati sehingga berefek pada konotasi ironi bagi saya. Emosional saya semakin memuncak ketika ada penyelewengan cerita antara novel dengan film. Hal ini terlihat jelas bahwa pada novel diceritakan bahwa Srintil yang masih bayi ditinggal mati oleh kedua orang tuanya saat memakan tempe bonngkrek, tetapi pada film Srintil sudah remaja yang menyaksikan langsung ketika orang tuanya meninggal. Ilustrasi bukti pada novel sebagai berikut:
Srintil, bayi yang manis...Santayib hanya kuasa menelan ludah. Sementra itu Srintil meronta manja di atas tikar... Santayib menikmati kesadarannya yang terakhir ketika melihat istrinya roboh ke belakang.”(hlm.29)
Kembali lagi mengaitkan hal-hal yang berbau sensor. Pada film banyak peristiwa yang disensor dari cerita novel, seperti ketika Srintil menjadi gowok, mengasuh bayi bernama Goder, dan ilustrasi ketika ia menjadi kelainan jiwa.  Nah, hal ini menunjukkan begitu singkatnya dan kurang apiknya dalam penceritaan pada filmnya sehingga butuh mencari kenikmatan tersendiri untuk menimbulkan kesadaran yang baik bagi penonton.  Namun, percayalah bahwa  dari gaya visual yang ditampilkan dalam sebuah film tersebut pada hakikatnya tetap berpacu pada kedalam tujuan Ahmad Tohari yang di improvisasikan seperti itu.
Dari segi kebahasaan yang digunakan antara penyelarasan novel dan film sudah pas, tetapi menurut saya ada sesuatu yang kurang fasih dalam nada dan pengucapan tokoh, misal pada tokoh Srintil pada saat bertembang pada film ketika itu ia sedih karena tidak ada penonton yang menyaksikannya hanya ditemani oleh Sakum. Data tembang, seperti berikut:
“ Sunggur rite ronggenge si Ronggeng Paruk...”
Anehnya tembang tersebut tidak ada dicantumkan dalam novel sehingga cenderung agak kontras dengan novelnya. Ditilik dari kepahaman cerita, saya lebih mudah memahami maksud cerita dari novel dibandingkan dengan filmnya. Saya jadi canggung dengan orang lain yang belum membaca novelnya, bisa-bisa dia akan kesulitan untuk memahami ceritanya. Cerita novel lebih tersusun dan padat akan peristiwa, meskipun terdapat arus balik. Nah, pada film dari awal sudah dimulai dari arus mundur dan banyak peristiw yang tersensor. Mungkin, hal ini untuk menyingkat cerita yang begitu panjang agar terkesan lebih improvisasi bagi penonton.
Perbedaan yang menonjol lagi, dari akhir cerita antara novel dengan filmnya. Jika di novel menceritakan akhir cerita bahwa Srintil di bawa Rasus ke rumah sakit jiwa agar sembuh dan ada pengharapan bahwa Srintil bisa kembali seperti dulu, tetapi di film seolah-olah diceritakan bahwa Srintil selama-lamanya menjadi ronggeng yang berlatar kelainan jiwa. Sungguh, akhir cerita yang sad ending. Hal ini, bisa kembali pada corak cerita-cerita novel/roman pada masa Balai Pustaka yang selalu berakhir sad ending atau kesengsaraan.
Pada hakikatnya, hal ini hanyalah ungkapan selera dari saya terhadap karya sastra yang menakjubkan tersebut. Intinya, cerita dari novel atau film tersebut mampu menggugah jiwa untuk memiliki jiwa perjuangan dalam hidup. Sebagaimana yang kita ketahui, objek wanita pada masa lampau telah menjadi objek yang mampu menggambarkan peradaban. Sebab tak seperti masa kini dimana peran perempuan telah demikian luas dalam masyarakat. Pada masa lampau peran perempuan sangat minim, yaitu hanya seputar dapur dan ranjang. Nah, menariknya dalam peran yang sedikit ini beberapa wanita dan kelompoknya telah secara langsung maupun tidak membuat ‘penanda’ zaman dan peradaban.
Nah, jika Anda tertarik untuk menikmati romansa sambil menilik sisi minor dari sebuah peradaban, Ronggeng Dukuh Paruk dapat menjadi salah satunya. Hanya saja kali ini anda tak perlu lintas negara dan lintas budaya, karena kali ini latarnya adalah potret peradaban negeri kita sendiri, yakni di Indonesia. Jadi, novel ini layak untuk dibaca dan di tonton oleh kalangan remaja keatas.
Tetaplah berkarya dari tarian kata-kata indah dan kaya makna.
 Untuk lelaki, perempuan, dan anak-anak Indonesia.