RESENSI
NOVEL DAN FILM
POTRET
PANJANG SANG RONGGENG
Tugas
ini disusun guna memenuhi Ujian Akhir Semester Membaca Komprehensif
Pengampu:
M. Fakhrur Saifudin
Disusun oleh:
PUJI LESTARI A310120174
PENDIDIKAN
BAHASA SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2013
RESENSI
NOVEL DAN FILM
POTRET
PANJANG SANG RONGGENG
IDENTITAS
BUKU
Judul : Ronggeng Dukuh Paruk
Penulis : Ahmad Tohari
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 408 Halaman ; 21 cm
Tahun Terbit : 1982
Cetakan : 2003
Jenis Buku : Fiksi
Harga buku: Rp25.000,00
Latar Belakang Pengarang
Untuk
lelaki, perempuan, dan anak-anak Dukuh Paruk.
Kemarau
pada saat ini mungkin tidak lagi segempar dan sedahsyat pada masa lalu ketika
hutan-hutan jati di daerah Jatilawang mengering, penduduk kelaparan, dan tanah
pecah-pecah. Semua itu terjadi pula di kawasan Banyumas, Jawa Tengah pada masa
lampau. Dahulu, seperti yang ditunjukan Ahmad Tohari (1957), penulis yang
pernah bereproduksi dalam sebuah novel Ronggeng Dukuh Paruk menggambarkan pada
saat itu hutan berkobar menjadi korban
akibat pertikaian politik yang merasuk dan menyapu ke desa-desa sebelum
tahun1965.
Ahmad
Tohari, pujangga legendaris yang di lahirkan di desa Tinggarjaya,
Kecamatan Jatilawang, Banyumas, 13 Juni
1948. Jika ditilik dari segi pendidikannya, secara formal hanya mencapai SMTA
di SMAN II Purwokerto. Namun demikian, ia pernah mengenyam bangku kuliah,
seperti
Fakultas Ilmu Kedokteran Ibnu Khaldun, Jakarta (1967-1970), Fakultas Ekonomi
Universitas Sudirman, Purwokerto (1974-1975), dan Fakultas Sosial Politik
Universitas Sudirman (1975-1976). Anehnya, semuanya tak ada yang ditekuninnya.
Ahmad Tohari pernah menjadi staf redaktur
harian Merdeka selama dua tahun di majalah Keluarga dan majalah Amanah di
Jakarta. Dalam karir kepengarangannya,
penulis yang berlatar kehidupan pesantren ini telah melahirkan novel dan
kumpulan cerita pendek. Jiwa kepenulisan
Ahmad Tohari tidak pernah melepaskan diri dari pengalaman hidup kedesaannya
sehingga semua karyanya bercorak lapisan bawah dengan latar alam yang begitu
suci. Maka wajar, jika ia merasa begitu terikat dengan alam sehingga ia
memutuskan kembali berada di tengah sawah di antara lumpur dan katak, di antara
lumut dan batu cadas di desanya.
Novel
pertama yang berhasil terbit, yakni Di Kaki Bukit Cibalak pada tahun 1977.
Kemudian Kubah terbit 1980 dan dinyatakan sebagai karya fiksi terbaik saat itu
oleh Yayasan Buku Utama. Gramedia menerbitkan novelnya yang ketiga Ronggeng Dukuh
Paruk (1981). Ahmad Tohari menghasilkan karya novel ini yang menjadi penyatuan
trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala,
dengan memasukkan kembali bagian-bagian yang tersensor selama 22 tahun.
Bukankah begitu manis?
Ronggeng Dukuh Paruk, novel yang
diterbitkan tahun 1982 berkisah tentang kekalutan dan pergolakan seorang
ronggeng di dusun kecil bernama Dukuh Paruk pada masa pergolakan komunis.
Karyanya ini dianggap kekiri-kirian oleh pemerintah Orde Baru sehingga Tohari
diinterogasi selama berminggu-minggu. Hingga akhirnya Tohari menghubungi
sahabatnya Gus Dur dan akhirnya terbebas dari intimidasi dan jerat hukum.
Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk
diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul The Dancer oleh Rene T.A.
Lysloff. Trilogi ini juga difilmkan oleh sutradara Ifa Irfansyah dengan judul
"Sang Penari" (2011). Tohari memberikan apresiasi yang tinggi terhadap
para pembuat film Sang Penari dan berujar akan jadi dokumentasi visual yang
menarik versi rakyat, bukan versi kota sebagaimana dalam film-film sebelumnya. Pada bulan Desember 2011, Ahmad Tohari
mengungkapkan bahwa dirinya berencana untuk melanjutkan Triloginya menjadi
Tetralogi dengan membuat satu novel lagi.
Sinopsis Cerita
Dukuh Paruk merupakan simbol kehidupan
yang menggambarkan kemelaratan, kebodohan, dan tak mampu mengembangkan akal
budi. Namun, Dukuh Paruk menjadi kiblat kehidupan kebatinan mereka. Konon,
moyang mereka semua Dukuh Paruk adalah Ki Secamenggala, seorang bromocoran yang
menghabiskan riwayat keberandalannya. Di Dukuh Paruk inilah akhirnya Ki
Secamenggala menitipkan darah dagingnya. (hal.10)
Oleh
karena itu, mereka memujanya. Bagi pedukuhan yang kecil, miskin,
terpencil namun bersahaja itu, ronggeng adalah perlambang kehidupan. Tanpa
adanya seorang ronggeng, dukuh itu akan kehilangan jati diri. Srintil menjadi tokoh
yang amat terkenal dan digandrungi karena cantik dan menggoda.
Sejak
kecil Srintil telah memilki indang untuk menjadi Ronggeng di Dukuh
Paruk. Keyakinan itu sudah diyakini oleh Sakarya, kakek Srintil. Sakarya sering
memperhatikan Srintil ketika Srintil
kerasukan indang ronggeng di bawah pohon nangka. Jelas, Srintil berhasil
bermimik penagih berahi seperti ronggeng sejati dan mampu menirukan dengan
baiknya gaya seorang ronggeng. Bahkan, seorang gadis kencur seperti Srintil
mampu bernyanyi lagu erotik.
Seiring
berjalannya waktu, Srintil berhasil dinobatkan menjadi ronggeng Dukuh Paruk
ditemani Keris Kyai Jaran Guyang pemberian Rasus dan harus mengikuti serangkaian
upacara tradisional ronggeng yang puncaknya pada malam bukak klambu. Hal
ini membuat hati Rasus hancur karena ia tidak bisa berbuat apa-apa terhadap
Srintil yang secara resmi milik semua orang. Jelas, Rasus sangat mencintai
Srintil. Kemudian Rasus memilih untuk meninggalkan Srintil.
Srintil
tumbuh dalam prosesi-prosesi ronggeng dan dicintai oleh penduduk Dukuh Paruk
bahkan di luar daerah Dukuh Paruk pun begitu tergila-gila dengannya. Anehnya, semua
para wanita yang memiliki suami sangat bangga jika suaminya bisa tidur dengan Srintil.
Hal ini merupakan salah satu kebanggaan mereka terhadap ronggeng yang dianggap
sumber kehidupan. Semua orang berlomba-lomba memfasilitasi seorang ronggeng;
membelikan kosmetik, mengolahkan makanan, mencucikan baju dan sebagainya. Bagi
desanya sendiri, ronggeng merupakan simbol kejayaan.
Disisi
lain, kepergian
Rasus ternyata membekaskan luka yang mendalam di hati Srintil dan kelak besar
sekali pengaruhnya terhadap perjalanan hidupnya yang berliku. Srintil mulai
berontak dari ketentuan yang telah lama mengakar dalam dunia peronggengan,
terutama dalam masalah hubungan antara seorang ronggeng dengan dukunnya. Rasus
yang terluka hatinya memilih meninggalkan Dukuh Paruk dan akhirnya menjadi
seorang prajurit atau tentara yang gagah.
Perpisahan tersebut menghasilkan
peristiwa yang begitu pelik dan manja. Pertama, menjelang usia dua puluh
kedirian Srintil mulai teguh. Apalagi, sejak pertemuannya dengan Goder, bayi
mungil yang memiliki senyuman teduh di hati Srintil dan mampu memudarkan dilema
Srintil. Srintil bermatabat, cantik, segar, dan mampu menampik laki-laki yang
tidak disukainya. Rasus sendiri ditundukkannya dalam dunia angan-angan dan
Srintil merasa menang. Dunia akhirnya mempercayakan dan meyakinkannya untuk
menjadi gowok. Seorang Gowok, ya...
itu bisa menjadi cerita lucu bagi kehidupan Srintil yang masih bisa dikatakan
gagal.
Kedua, ketika hati Srintil terenyuh
untuk membantu kemelaratan Sakum dan dunia kebusukan Dukuh Paruk dengan cara
menerima tawaran menari dari Kantor Kecamatan Dawuan yang akan menggelar pentas
kesenian menyambut perayaan Agustusan. Namun, hal ini tidak menghasilkan
sesuatu yang menggembirakan, melainkan bencana bagi Dukuh Paruk. Srintil harus
berbagi pada potongan lintasan hidupnya secara tidak bisa dimengerti oleh
dirinya, ronggeng itu dan Dukuh Paruk terlibat dalam kekalutan politik pada
tahun 1965 yang berbau orang-orang Partai Komunis Indonesia (PKI). Alhasil,
Dukuh Paruk kembali lagi menjadi
miskin dan tak berdaya diiringi jeratan tahanan yang mencekik.
Pengalaman
pahit yang dialaminya sebagai tahanan politik membuat Srintil sadar akan
harkatnya sebagai manusia. Setelah bebas, ia berniat memperbaiki citra dirinya
dengan tak lagi melayani lelaki manapun dan menjadi wanita somahan. Suatu
ketika Bajus muncul dalam hidup Srintil, sepercik harapan pun muncul. Sepercik
harapan itu pun mudah sirna, entah mengapa... ada apakah gerangan? Ya, akhirnya
Rasus menemui Srintil dengan keadaan yang tidak memanusia.
Unsur-unsur Intrinsik Novel dan Film
Tema yang terdapat dalam cerita ini tidak lepas
dari suatu adat atau kebudayaan yang begitu terikat dengan moyang mereka, yakni
Ki Secamenggala. Sebuah budaya ronggeng yang dimilki sebuah desa Dukuh Paruk.
1.
Tokoh dan Perwatakan
a.
Sang Ronggeng Srintil
Srintil adalah anak yatim piatu yang berkeinginan
untuk menjadi ronggeng. Dia pandai menari, bertembang, wajah teduh, cantik, dan
pandai memikat. Srintil yang kenes dan kemayu. Hal ini dibuktikan pada petikan
berikut :
Mimik penagih berahi yang selalu
ditamilkan oleh seorang ronggeng yang sebenarnya, juga diperbuat oleh Srintil
saat itu. Lenggok lehernya, lirik matanya, bahkan cara Srintil menggoyangkan
pundak akan memukau laki-laki dewasa mana pun yang melihatnya. Jari tangannya
melentik kenes. (halaman 13)
Srintil juga cerdik. Hal
ini terlihat ketika ia tidak mau diperawani oleh Dower dan Sulam, kemudian ia
malah menemui Rasus, lelaki yang ia cintai. Srintil memiliki sifat yang tulus. Hal
ini terdapat dalam petikan berikut:
Srintil hanya ingin disebut sebagai
perempuan utuh. Dia sungguh-sungguh ingin melahirkan anakku dari rahimnya.(halaman
144)
b.
Rasus
Rasus adalah anak laki-laki yatim piatu
yang menyukai bahkan mengagumi Srintil karena sebuah alasan ia melihat sosok emaknya
pada sosok Srintil. Rasus termasuk anak yang tekun dan rajin, terbukti semasa
kecilnya ia kerap membantu neneknya menggembalakan kambing, meskipun terkadang
dilepaskan secara liar karena hendak melihat Srintil. Rasus juga patuh dan
memiliki rasa tanggung jawab ketika ia
menjadi seorang tentara.
Rasus
memiliki sifat pendendam. Hal ini tercermin pada pendapatnya mengenai ibunya
yang pergi dan ketika pelatuknya menembakkan peluru ke arah tiruan mantri
kesehatan. Namun, Rasus memiliki sifat yang kritis ditunjukkan ketika dia
menyatakan pendapat dan menentang asal-usul kejadian tempe bongkrek, dia lebih
mempercayai bahwa musibah itu terjadi karena sejenis bakteri, lantas berkaitan
dengan emaknya dia juga selalu menanyakan kebenaran. Rasus juga cerdas. Ketika
dia memberikan pepaya kepada Srintil, namun Srintil lebih menginginkan jeruk
keprok, namun dijawabnya bahwa jeruk keprok tidak baik untuk gigi Srintil yang
baru saja dipangur.
Rasus berjiwa Idealis. Ini ditunjukkan
dalam penggalan cerita ketika Srintil meminta Rasus berbuat mesum, namun demi
mengingat emaknya Rasus menolak dan mengatakan alasan bahwa akan kualat
bersetubuh di makam Secamenggala. Rasus juga memiliki penuh kasih sayang. Hal
ini terbukti pada petikan berikut:
“Rasus duduk memutar bada setengah lingkaran. Ditatapnya
cermin sejarah pada keriput wajah Nenek. Yang paling jelas adalah gambar
penderitaan akibat ulah Rasus sendiri, yang telah meninggalkan neneknya
sebatabg kara selama dua tahun lebih.”( halaman 258)
c.
Sakarya
Sakarya,
kakek Srintil yang amat patuh pada adat. Sakarya sangat memercayai keberadaan
Ki Secamenggala. Sakarya bahkan membuat Srintil menjadi seorang ronggeng di
usia muda. Hal ini terlihat dari bagaimana Sakarya sangat percaya kepada Ki
Secamenggala.
d. Kartareja
Kartareja,
dukun ronggeng di Dukuh Paruk. Ia memiliki sifat yang licik. Hal ini tercermin
pada sikapnya ketika malam bukak klambu, ia melakukan kelicikan terhadap
Dower dan Sulam. Namun, pada dasarnya dia baik. Hal ini tercermin dari sifat
dan sikapnya yang tidak pernah memberikan kekerasan terhadap Srintil.
e. Istri Kartareja
Istri Kartareja juga sama halnya dengan
suaminya, licik. Nyai Kartareja juga pandai memikat dan menaklukkan orang yang
sedang emosi. Terbukti ketika Nyai Kartareja menaklukkan emosi dua orang pemuda
yang hendak mewisuda keperawanan Srintil.
Ada pun tokoh-tokoh lainnya seperti Warta,
Pak Bakar, Goder, Darsun, Sakum, , , Nenek Rasus, orang tua Srintil, dan warga
Dukuh Paruk lainnya juga sang leluhur yang warga Dukuh Paruk, Ki Secamenggala.
2.
Alur/Plot
Alur dalam cerita ini menggunakan alur arus
bolak-balik/campuran. Hal ini terbukti dari cerita Srintil yang kembali ke masa
lalu mengenai orang tua dan warga Dukuh Paruk yang keracunan tempe bongkrek.
Menurut saya cerita ini terlihat seperti melompat-lompat. Apalagi,
seperti ada sesuatu yang hilang atau mungkin memang disengaja ketika penggunaan
alur penceritaan dari usia Rasus yang ke-14 tahun menuju penceritaan pada saat
usia Rasus yang ke-20 tahun. Akhir ceritanya pun seperti ada yang menggantung
atau seperti belum selesai. Hal ini dapat dipahami karena novel ini adalah
novel pertama dari trilogi novel yang ada sehingga alur terkesan
melompat-lompat.
3.
Latar Tempat dan Waktu
Latar
digambarkan secara umum di sebuah perkampungan Dukuh Paruk sekitar tahun 1946
sampai 1975. Latar secara terperinci sebagai berikut:
a.
Di pelantara yang
membatu di bawah pohon nangka ( halaman 13)
b.
Dirumah Nyai Kartareja, bukti data: “Di
dalam rumah, Nyai Kartareja sedang merias Srintil dan banyak perempuan dan
anak-anak memenuhi rumah Kartareja.” ( halaman 18)
c.
Di rumah Srintil, bukti data: “ Di
halaman rumah Santayib seekor kodok satu-dua melompat mencari tempatnya yang
gelap di kolong balai-balai. Satu dua orang telah datang membeli bongkrek.”(halaman
22)
d.
Di pekuburan Dukuh
Paruk: “Di kaki bukit kecil di pekuburan Dukuh Paruk, Sakarya berdiri
bersilang tangan dan aku mengira upacara pemandian di perkuburan itu adalah
syarat terakhir sebelum seorang gadis sah menjadi ronggeng.” (halaman 15)
e.
Di pasar Dawuan,
bukti data: “Di pasar Dawuan pula suatu kali aku dapat melihat Srintil....”(halaman
81)
f.
Di Alaswangsal, bukti data: “Senja di Alaswangsal terasa
datang lebih cepat.”(halaman 212)
g.
Di Kabupaten Eling-Eling, bukti data: “ ... ribuan
tahanan yang berasal dari seluruh pelosok Kabupaten Eling-Eling.”(halaman 266)
h.
Pagi, bukti data: “ Pagi yang lengang.”(halaman 44)
i.
Malam, bukti data: “ Awal malam yang ceria itu tidak
berhias lengking anak-anak anak Dukuh Paruk.”( halaman 256)
j.
Sore hari: “Demikian,
sore itu Srintil menari dengan mata setengah tertutup.”(halaman 13)
4.
Sudut Pandang
Sudut pandang pengarang terkadang sebagai
orang pertama yang dijelmakan oleh Rasus. Ahmad Tohari memasukkan keakuannya
terhadap Rasus, tetapi terkadang sudut pandang pengarang menjadi orang ketiga
yang langsung pengarang yang melukiskannya.
5.
Amanat
Novel dan film ini lebih banyak
menonjolkan kepatuhannya terhadap adat dan moyang mereka. Keterbelakangan dan
kemelaratan mejadi corak dalam cerita ini sehingga terkesan begitu kaku, tetapi
memiliki warna lokal yang menggambarkan kebersamaan. Cerita novel ini begitu membanggakan dengan
adatnya sehingga membuat buta akan dunia luar.
Dunia
kritisi
Setelah kita berlayar dari samudera
panjang mengenai hal si pengarang, sinopsis cerita, dan unsur intrinsik maka
saatnya sekarang saya berekspresi untuk mengungkapkan dan mencuak misterinya. Pada hakikatnya, novel
ini termasuk kategori fiksi. Namun, secara realita setelah terjun ke dalam
ceritanya terkesan seperti nonfiksi. Mengapa? Yah.. karena Ahmad Tohari
berhasil mengemas cerita begitu nyata. Hal ini terlihat dari sorotan cerita
yang mengulas tentang pergolakan kaum komunis ditandai dengan G 30 S/PKI yang
mana peristiwa ini pernah terjadi di Indonesia.
Cerita novel ini begitu improvisasi
yang selalu terkuak faktor ketiba-tibaan yang membuat pembaca menjadi absurd.
Gaya bahasa yang penuh dengan kesederhanaan dan bermakna. Misalnya, dari judul
trilogi novel tersebut saja sudah terlihat, seperti Lintang Kemukus dan Jantera
Bianglala. Pemilihan kata-kata yang indah dan tak terduga. Apalagi, adanya
penggambaran kedesaan yang terlihat begitu romantis dan realisme sehingga
membuat pembaca mudah merasakannya secara utuh dibumbui daya kebebasan dalam
berimajinasi pembaca. Beliau mampu mengambarkan secara detail dari segi bentuk
dan suasana ceritanya sehingga benar-benar menjadi hidup.
Ahmad Tohari pun berhasil menyatukan
cerita yang apik dalam bentuk trilogi singkat yang pas sinambungnya. Beliau memiliki warna lokal dari kejernihan
dan kedalaman tujuan dari segi intensitas bahasanya. Gaya penulisannya banyak
memanfaatkan majas-majas sebagai sarana retorika untuk mengungkapkan
gasgasannya. Contoh, terdapat majas metafora. Bukti data sebagai berkut:
“Di pelataran yang membatu di
bawah pohon nangka. Ketika angin tenggara bertiup dingin menyapu harum bunga
kopi yang selalu mekar di musim kemarau”.(hlm. 13)
Hal ini memang mengesankan segi
estetik yang menjadi nuansa kreasi Ahmad Tohari, menurut saya ini sangat
langka. Saya terkesan ketika Tohari memilih kata ‘kecambah’ yang segar yang
ditunjukan untuk Srintil. Hal ini terlihat jelas bahwa ada pemaknaan secara
khusus.
Cerita Ronggeng Dukuh Paruk ini
berhasil mendongengkan dengan baik bagaimana kedudukan seorang ronggeng pada
masa itu. Jelas, ronggeng menjadi lambang kejayaan dan keindahan bagi mereka,
meskipun hal itu tabu. Ahmad Tohari malah mampu mengemas ketabuannya menjadi
lebih asri dan tidak terkesan munafik.
Ronggeng Dukuh Paruk membawa kita
pada sebuah masa dimana bangsa kita diwarnai oleh desa-desa terbelakang dengan
gaya hidup yang tergantung pada alam, adat dan mistik. Secara detail
digambarkan aktifitas masyarakat pada masa itu yang sarat dengan nilai-nilai
sosial yang mereka anut. Hal-hal inilah yang banyak dilewatkan oleh buku-buku
sejarah kita yang hanya mengulas akan apa yang terjadi di ibukota dan kota-kota
perjuangan lainnya.
Karakter - karakter yang dibangun
begitu kuat sehingga plot apapun yang dipasang dalam cerita tidak mengurangi
nilai sebuah karakter. Seperti halnya dongeng, cukup jelas antara antagonis dan
protagonis. Namun kejelasan itu sendiri sesuai dengan konteks masa yang menjadi
dasar cerita. Mengagumkan bahwa karakter-karakter tersebut telah mewakili
banyak pihak dari masa itu. Mulai dari kepala adat hingga kontraktor, dari ibu
pejabat hingga nenek miskin, dari penduduk asli hingga peranakan dan
sebagainya.
Terlepas dari itu semua, ternyata
masih ada juga segi kekurangannya. Padahal, semua terlihat begitu sempurna.
Yah, jika tidak mana mungkin novel dan film ronggeng dukuh paruk bisa melejit
hingga ke angkasa. Ditilik dari bahasa, Tohari banyak mencantumkan bahasa Jawa.
Saya masih penasaran untuk makna kata-kata tertentu seperti pada kata ‘
dipangur’, ‘gandrung’, ‘kewes’, dll. Hal
ini tidak ada penjelasan lebih lanjut hanya pertandaan bahwa ini merupakan
bahasa Jawa sehingga bisa menimbulkan kekecewaan secara emosional terhadap
pembaca.
Penceritaannya pun terlihat seperti
ada yang hilang, seperti adanya yang belum terisi dengan baik sehingga terkesan
melompat-lompat seenaknya. Akhir cerita pun berakhir sad ending. Hal ini
membuat saya kecewa. Imajinasi saya ketika itu sudah yakin akan berakhir
bahagia seperti cerita-cerita yang ditawarkan oleh pengarang lainnya. Ternyata
ajaib, Tohari mampu menepisnya dengan baik. Hal ini memang pengarang tetap
teguh pada prinsip kedalaman tujuan yang sudah dibangun dari awal bahwa adanya
kesejatian ronggeng maka Srintil tetap dijadikan ronggeng meskipun dengan tidak
memanusia alias kelainan jiwa.
Ada apa dengan Novel dan Filmnya?
Ronggeng Dukuh Paruk merupakan novel
yang menginspirasi sebuah film berjudul “Sang Penari” yang menjadi buah bibir
dan menuai banyak penghargaan di salah satu ajang apresiasi film Indonesia. Pemeran utama
wanitanya adalah Prisia Nasution dan lelakinya Oka Antara. Menurut saya berdasarkan dari hasil imajinasi,
Prisia Nasution belum masuk ke kategori
kecantikan yang dimilki Srintil. Sosok ronggeng Srintil yang mungil, payudara
‘penuh’, senyum begitu menggoda, dan cekungan mata yang dalam seperti yang
dilukiskan di dalam novel.
Alur cerita dari film “ Sang Penari”
banyak tersensor dan terasa banyak yang hilang untuk dinikmati sehingga berefek
pada konotasi ironi bagi saya. Emosional saya semakin memuncak ketika ada
penyelewengan cerita antara novel dengan film. Hal ini terlihat jelas bahwa
pada novel diceritakan bahwa Srintil yang masih bayi ditinggal mati oleh kedua
orang tuanya saat memakan tempe bonngkrek, tetapi pada film Srintil sudah
remaja yang menyaksikan langsung ketika orang tuanya meninggal. Ilustrasi bukti
pada novel sebagai berikut:
“ Srintil, bayi yang
manis...Santayib hanya kuasa menelan ludah. Sementra itu Srintil meronta manja
di atas tikar... Santayib menikmati kesadarannya yang terakhir ketika melihat
istrinya roboh ke belakang.”(hlm.29)
Kembali lagi mengaitkan hal-hal yang
berbau sensor. Pada film banyak peristiwa yang disensor dari cerita novel,
seperti ketika Srintil menjadi gowok, mengasuh bayi bernama Goder, dan
ilustrasi ketika ia menjadi kelainan jiwa.
Nah, hal ini menunjukkan begitu singkatnya dan kurang apiknya dalam
penceritaan pada filmnya sehingga butuh mencari kenikmatan tersendiri untuk
menimbulkan kesadaran yang baik bagi penonton.
Namun, percayalah bahwa dari gaya
visual yang ditampilkan dalam sebuah film tersebut pada hakikatnya tetap
berpacu pada kedalam tujuan Ahmad Tohari yang di improvisasikan seperti itu.
Dari segi kebahasaan yang digunakan
antara penyelarasan novel dan film sudah pas, tetapi menurut saya ada sesuatu
yang kurang fasih dalam nada dan pengucapan tokoh, misal pada tokoh Srintil pada
saat bertembang pada film ketika itu ia sedih karena tidak ada penonton yang
menyaksikannya hanya ditemani oleh Sakum. Data tembang, seperti berikut:
“ Sunggur rite ronggenge si Ronggeng
Paruk...”
Anehnya tembang tersebut tidak ada
dicantumkan dalam novel sehingga cenderung agak kontras dengan novelnya.
Ditilik dari kepahaman cerita, saya lebih mudah memahami maksud cerita dari
novel dibandingkan dengan filmnya. Saya jadi canggung dengan orang lain yang
belum membaca novelnya, bisa-bisa dia akan kesulitan untuk memahami ceritanya.
Cerita novel lebih tersusun dan padat akan peristiwa, meskipun terdapat arus
balik. Nah, pada film dari awal sudah dimulai dari arus mundur dan banyak
peristiw yang tersensor. Mungkin, hal ini untuk menyingkat cerita yang begitu
panjang agar terkesan lebih improvisasi bagi penonton.
Perbedaan yang menonjol lagi, dari
akhir cerita antara novel dengan filmnya. Jika di novel menceritakan akhir
cerita bahwa Srintil di bawa Rasus ke rumah sakit jiwa agar sembuh dan ada pengharapan
bahwa Srintil bisa kembali seperti dulu, tetapi di film seolah-olah diceritakan
bahwa Srintil selama-lamanya menjadi ronggeng yang berlatar kelainan jiwa. Sungguh,
akhir cerita yang sad ending. Hal ini, bisa kembali pada corak
cerita-cerita novel/roman pada masa Balai Pustaka yang selalu berakhir sad
ending atau kesengsaraan.
Pada
hakikatnya, hal ini hanyalah ungkapan selera dari saya terhadap karya sastra
yang menakjubkan tersebut. Intinya, cerita dari novel atau film tersebut mampu
menggugah jiwa untuk memiliki jiwa perjuangan dalam hidup. Sebagaimana yang
kita ketahui, objek wanita pada masa lampau telah menjadi objek yang mampu
menggambarkan peradaban. Sebab tak seperti masa kini dimana peran perempuan
telah demikian luas dalam masyarakat. Pada masa lampau peran perempuan sangat
minim, yaitu hanya seputar dapur dan ranjang. Nah, menariknya dalam peran yang sedikit
ini beberapa wanita dan kelompoknya telah secara langsung maupun tidak membuat
‘penanda’ zaman dan peradaban.
Nah,
jika Anda tertarik untuk menikmati romansa sambil menilik sisi minor dari
sebuah peradaban, Ronggeng Dukuh Paruk dapat menjadi salah satunya. Hanya saja
kali ini anda tak perlu lintas negara dan lintas budaya, karena kali ini
latarnya adalah potret peradaban negeri kita sendiri, yakni di Indonesia. Jadi,
novel ini layak untuk dibaca dan di tonton oleh kalangan remaja keatas.
Tetaplah berkarya dari tarian kata-kata indah dan kaya
makna.
Untuk lelaki,
perempuan, dan anak-anak Indonesia.